RADAR BLAMBANGAN.COM, | Jakarta, – Pemikiran kritis kembali muncul dari Agus Flores, peneliti filsafat yang pernah meraih nilai tesis A+ dalam ajang karya ilmiah Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar pada 1999. Mantan mahasiswa filsafat yang dikenal dekat dengan mendiang Rektor Universitas Tadulako, Prof. Dr. Syahbudin Mustafa, itu kembali memantik diskusi melalui analisis spiritual-logis mengenai posisi manusia dalam tatanan ciptaan Tuhan.
Dalam penjelasan panjangnya, Agus Flores menegaskan bahwa manusia bukan makhluk paling sempurna, melainkan justru “ciptaan terakhir” dengan karakter rakus, egois, pemakan segalanya, dan sering mengambil hak-hak alam.
“Alam dan Hewan Lebih Sempurna dari Manusia”
Menurutnya, kesempurnaan justru tampak pada alam, tumbuhan, dan hewan yang hidup sesuai fitrahnya tanpa merusak atau merampas.
“Yang mengambil harta alam hanyalah manusia. Yang memakan tumbuhan dan hewan juga manusia. Hewan tidak pernah meminta uang, tidak pernah korup,” jelas Agus Flores.
Ia menilai bahwa sifat rakus, tamak, dan manipulatif merupakan ciri khas manusia, yang kemudian mengklaim dirinya sebagai makhluk paling mulia, padahal menurutnya tidak ada kitab suci yang menyebut manusia memuliakan sesamanya tanpa prasangka.
Manusia Sebagai Hernivora dan Kalbivora
Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia, Agus Flores menyimpulkan bahwa manusia adalah campuran pemakan tumbuhan dan hewan. “Logikanya, manusia termasuk hernivora dan kalbivora,” ujarnya.
Agama, Moral, dan Kekuasaan
Agus juga menyoroti fenomena keagamaan modern. Menurutnya, konsep surga-neraka sering disampaikan melalui ceramah berbayar, sehingga agama dapat bergeser menjadi komoditas ekonomi.
Dalam persoalan sosial-politik, ia menilai manusia kerap menjadi “perampok sifat Tuhan”, misalnya:
- Sombong, padahal hanya Tuhan yang berhak sombong.
- Menghakimi nyawa, seperti dalam vonis mati.
- Mengaku maha kaya, padahal kekayaan mutlak milik Tuhan.
- Mengaku paling pintar, melalui gelar-gelar akademik.
Ia bahkan menceritakan pengalaman pribadi saat bertanya dasar-dasar hukum kepada seseorang yang kemudian menjadi profesor. “Kalau sudah profesor, hati-hati, itu bisa mendekati sifat Firaun,” katanya sambil tersenyum.
Dewa dan Hierarki Ciptaan
Salah satu pandangan paling kontroversial Agus adalah soal keberadaan “dewa”. Ia menilai istilah itu berasal dari kesalahpahaman manusia, sementara hakikatnya bisa jadi merujuk pada “roh pengawas” ciptaan Tuhan setelah malaikat, yang bertugas menjaga keseimbangan alam, hewan, dan manusia.
“Manusia memberi nama ‘dewa’. Kita tidak tahu apa sebutan asli ciptaan Tuhan itu,” ujarnya.
Apakah Raja, Presiden, Hakim Adalah Wakil Tuhan?
Agus menolak anggapan bahwa manusia dapat mengklaim posisi sebagai wakil Tuhan.
Menurutnya, satu-satunya wakil Tuhan hanyalah malaikat, bukan penguasa, pemimpin, atau pejabat dunia. Klaim manusia sebagai wakil Tuhan dianggap sebagai konstruksi manusia sendiri.
Kesimpulan Agus Flores: Manusia adalah Makhluk Terendah
Dalam kerangka filsafat spiritualnya, Agus menyimpulkan bahwa manusia diciptakan paling akhir dengan segala kelemahan: emosi, iri, perang, rakus, dan konflik. “Itu sebabnya organisasi panas justru menunjukkan organisasi itu hidup,” ujarnya sembari menegaskan bahwa ia memahami dinamika tersebut selama memimpin sejumlah organisasi besar.***













Leave a Reply